Siapa Sih “Arab” Itu?

Bangsa Arab

Banyak orang menyebut kelompok (etnis/suku) dengan karakteristik tertentu sebagai “Arab”. Tetapi sebetulnya dari aspek akademik, kata “Arab” bukan persoalan yang mudah untuk diurai: apa dan siapa mereka itu sebenarnya karena memang sangat rumit jika ditinjau dari sejarah, etimologi kata, maupun ciri-ciri fisik & sosial-budaya. Dengan kata lain, identitas Arab atau ke-arab-an bukan hal mudah dan selalu menjadi ajang kontestasi para sarjana.

Misalnya, jika “Arab” mengacu pada kelompok etnis tertentu yang menggunakan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari, maka akan ada banyak kelompok “Arab”, termasuk komunitas Yahudi yang juga banyak yang berbahasa Arab (misalnya Yahudi Yaman) atau Druze.

Arab Islam, Arab Yahudi dan Arab Kristen

Kemudian, jika mengacu pada agama (Islam), faktanya banyak masyarakat Arab Kristen dan bahkan Arab Yahudi. Jika mengacu pada pakaian (jubah/abaya/cadar), faktanya banyak masyarakat non-Arab yang berpakaian serupa. Jika mengacu pada ciri fisik (kulit putih/bening), faktanya banyak masyarakat Arab Hitam (Black Arabs) yang juga berbahasa Arab, selain bahasa lokal di Afrika.

Masyarakat “Arab Hitam” (misalnya di kawasan Sudan & negara-negara di Afrika utara) ini juga mengklaim sebagai Arab keturunan dari para tentara Arab yang menyerbu Afrika sejak abad ketujuh Masehi. Jadi, “Arab Hitam” itu adalah produk perkawinan dari laki-laki Arab dengan perempuan lokal Afrika. Kelompok “Arab hitam” kurang lebih sama dengan Mestizo di Amerika Latin atau Filipina yang merupakan hasil perkawinan silang laki Spanyol dan perempuan lokal.

Asal Usul Etnis Arab

Asal-usul etnis/suku Arab sendiri juga rumit dan selalu jadi perdebatan. Ada yang mengklaim masyarakat Arab kontemporer adalah keturunan dari Ya’rub bin Qahtan (keturunan Nabi Hud) yang kemudian dikenal dengan sebutan “Arab Qahtani” yang aslinya dari Yaman.

Kelompok Arab Qahtani ini mengklaim sebagai “Arab asli” dan menganggap kelompok Arab Adnani sebagai “Arab KW” atau kelompok yang mengalami proses pengaraban (Arabized Arabs). Arab Adnani (adnaniyyun) adalah masyarakat Arab keturunan Ismael via Adnan yang kemudian mengalami proses Arabisasi ketika migrasi ke Jazirah Arab.

Ada pula sejarawan yang menganggap masyarakat Arab kontemporer adalah keturunan dari kelompok Arab Nabatea yang pernah mendirikan kerajaan di dekat Petra (sebuah kota historis di Yordania selatan) di abad ketiga SM.

Hingga kini, meskipun secara virtual ada kelompok etnis/suku yang bernama Arab tetapi dalam realitasnya sangat kompleks dan tidak mudah untuk dijabarkan. Apalagi kini mereka terpecah menjadi ribuan sub-suku dan klan dan berkeping-keping menjadi puluhan negara (tercatat kini ada sekitar 22 negara yang tergabung di Liga Arab) yang mengatasnamakan Arab dan mengembangkan identitas “Arabness” yang sesuai dengan “cita rasa” lokal masing-masing negara.

Maka kemudian berkembanglah genre baru: Arab Qatari, Arab Emirati, Arab Omani, Arab Bahraini, Arab Kuwaiti, Arab Saudi dlsb yang saling beradu keotentikan. Jamak diketahui kalau masyarakat Arab di Saudi, Mesir, Irak, dan Libanon misalnya saling kontes dan “beradu kearaban”.

Jadi, jangankan antar kelompok Arab yang tinggal di negara Arab berbeda, masing-masing suku dan kelompok Arab yang tinggal di negara yang sama pun mengklaim sebagai yang “paling Arab” atau “yang paling otentik” ke-Arab-annya. Di Arab Saudi misalnya jamak diketahui kalau sebagian suku Arab tertentu mengklaim sebagai “yang paling Arab” ketimbang suku Arab lainnya, meskipun sama-sama tinggal di kawasan Semenanjung Arabia.

Kompleksitas identitas Arab ini semakin bertambah kompleks sejak munculnya “generasi hybrid” di Indonesia yang bernama “Arab Fesek” yang “bergaya ngarab” meskipun ambles hidungnya dan mini manuknya.😱

Sumber: Facebook – Prof Sumanto Al Qurtuby

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Dicky Herlando

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.