Prospek Bisnis Gadai, Sebuah Peluang?

Prospek Bisnis Gadai

Segmen potensial yang menjadi prospek bisnis gadai adalah kelompok masyarakat menengah-bawah sampai dengan menengah tengah. Menurut definisi Asian Development Bank, tingkat pengeluaran kelompok itu berada pada rentang antara US$ 2 – US$ 10 per hari.

Prospek Bisnis Gadai

Berdasarkan survei Bank Indonesia, komposisi penduduk Indonesia yang berada pada level berpenghasilan Hampir miskin sampai dengan menengah bawah – tengah sebanyak 169 juta orang, atau sekitar 65 % dari jumlah penduduk Indonesia yang pada tahun 2017 berjumlah 262 juta orang. (Sumber: Katadata). Kelompok tersebut mayoritas belum memiliki akses ke perbankan.

Berdasarkan data empirik di bisnis gadai, rata rata uang pinjaman satu orang nasabah adalah sekitar Rp 2.500.000.-s,d Rp. 3,000,000.- per orang untuk satu kali pengambilan kredit.  Sekitar 60% dari nasabah gadai  melakukan gadai lebih dari satu kali dalam satu tahun atau melakukan ulang gadai (roll over) kreditnya setelah jatuh tempo. 

Tingkat Literasi Terhadap Prospek Bisnis Gadai

Dilihat dari hasil Survei Nasional Literasi Keuangan Indonesia tahun 2016,  tingkat literasi penduduk Indonesia terhadap lembaga gadai ini adalah sebesar 17.82 % . Maknanya hanya sekitar 17.82% dari penduduk Indonesia yang well literate atau mengerti bagaimana menggunakan lembaga keuangan gadai ini dengan baik.  Dapat disimpulkan dengan besarnya prospek bisnis gadai maka diharapkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia juga akan semakin meningkat karena akan semakin banyaknya outlet gadai yang akan tumbuh dan melayani masyarakat.

Sebaliknya dengan tumbuhnya jumlah pemain dalam bisnis gadai ini juga akan meningkatkan persaingan untuk memperebutkan nasabah antara perusahaan gadai itu, atau lembaga keuangan lain yang juga menargetkan nasabah pada segmen yang sama.

Salah satu yang dihadapi setiap perusahaan dalam menjalankan bisnisnya adalah ‘’risiko’’. Seberapa besar risiko itu, bergantung pada seberapa siap perusahaan itu menghadapi persaingan dalam industrinya.

Resiko Bisnis Gadai

Berkaitan dengan bisnis gadai, maka definisi risiko bisnis adalah menyangkut persaingan yang dihadapi perusahaan gadai untuk dapat terus tumbuh.

Sejak tahun 1900 pemerintah kolonial melalui kajian yang dibuat oleh De Wolf Van Westerrode memberikan hak monopoli bisnis gadai ini kepada Pandhuis. Pandhuis yang berarti pegadaian merupakan nama lembaga yang sekarang disebut PT Pegadaian (Persero).

Pada tahun 2016 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan regulasi berupa izin kepada pihak swasta untuk menjalankan bisnis gadai. Tujuan utama dari peraturan ini adalah untuk menumbuhkan industri pergadaian di Indonesia, memberikan akses keuangan yang lebih luas dan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Meskipun secara resmi bisnis jasa gadai oleh pihak swasta mendapat legalitas setelah keluarnya ketentuan OJK tersebut, jauh sebelumnya secara de facto bisnis gadai ini sudah bukan lagi monopoli PT Pegadaian (Persero). Sebab, pada tahun 2012, Bank Indonesia juga sudah mengeluarkan izin bagi perbankan syariah untuk menjalankan bisnis gadai yang disebut dengan ‘’rahn’’.

Keluarnya ketentuan OJK mengenai izin pendirian perusahaan gadai, secara tidak langsung, semakin mendorong bisnis jasa gadai. Usaha pergadaian semakin banyak tumbuh di berbagai wilayah, baik yang sudah terdaftar dan mendapatkan izin dari OJK maupun yang baru beroperasi dengan menggunakan badan hukum koperasi. Dan ini yang sekarang menjadi mayoritas.

Kredit yang disalurkan seluruh perusahaan pergadaian sampai dengan bulan September 2017 tercatat sebesar Rp 29,138 triliun atau naik dari Rp 28,192 triliun pada bulan September 2016. Secara persentase mengalami pertumbuhan year on year (yoy) sebesar 3,35%.

Data pertumbuhan ini mencakup kredit yang disalurkan oleh Pegadaian ditambah dengan data 6 perusahaan Pergadaian yang terdaftar dan 4 perusahaan Pergadaian yang mendapatkan izin dari OJK (Infobank Outlook 2018 ). Meskii demikian, dapat diyakini bahwa data yang tersaji dalam laporan OJK adalah data penyaluran kredit yang dilakukan Pegadaian.

Masih berdasarkan Infobank Outlook 2018, gadai syariah atau rahn mengalami pertumbuhan sebesar dari Rp 3,574 triliun pada bulan September 2016, menjadi Rp 3,862 triliun pada September 2017. Persentasi kenaikannya sebesar 8,06%.

Prospek Bisnis Gadai
Sumber : Infobank outlook 2018, data diolah.

Dari laporan tersebut, terlihat bahwa penyaluran gadai syariah tumbuh lebih tinggi lebih tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan bisnis gadai konvensional. Namun demikian, kontribusi gadai syariah masih kecil. Sekitar 10% persen bila dibandingkan dengan pembiayaan gadai secara keseluruhan.

Pada periode yang sama, pertumbuhan pergadaian konvensional masih jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan perusahaan pembiayaan (multi finance), lembaga keuangan yang memiliki segmen mirip dengan pergadaian. Pada periode tersebut perusahaan pembiayaan dapat menyalurkan kredit sebesar Rp 410,84 miliar atau tumbuh sebesar 8.63% .

Bagikan Artikel Ini:

Pages: 1 2 3 4 5

About the author

Peter White

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.