Indonesia Akan Jadi Produsen Baterai Litium Terbesar di Dunia

Produsen Baterai Litium

Saya membaca studi tentang rencana bisnis pendirian industri baterai litium di Indonesia. Ternyata untuk menjadi produsen baterai litium yang menjadi critical point adalah soal SDM.

Masalahnya adalah keterbatasan tersediannya tenaga insinyur untuk mengoperasikan mesin separator dengan Technology Hydro. Mesin ini sangat rumit dan menjadi sumber resiko atas pemborosan biaya produksi dan juga biaya perawatan kalau tidak di operasikan orang yang punya skill diatas rata rata.

Bisa saja, melatih pekerja pemula, namun butuh waktu. Sedikitnya 6 bulan sampai dia bisa punya knowhow dan adaptip dengan mesin.

Solusi adalah menggunakan tenaga kerja asing. Tetapi itu juga sulit, karena negara lain juga punya masalah sama dengan kita, yaitu kurangnya tenaga terampil dalam bidang smelter mineral.

Baca: Peluang Ekspor Indonesia

China termasuk mau berbaik hati memberikan bantuan tenaga kerja nya tetapi itupun sangat terbatas waktu yang mereka berikan. Paling lama 3 bulan. Dengan syarat, kalau mereka ambil bagian dari investasi. Karena pemerintah China melarang tenaga kerjanya bekerja di luar negeri, pada bidang tertentu, termasuk Smalter. Sementara Jepang dan Eropa tidak punya stok tenaga kerja untuk di transfer ke kita.

Ini masalah serius, di tengah upaya pemerintah ingin menjadikan Indonesia sebagai produsen baterai Lithium terbesar di dunia. Saya engga ngerti mengapa tidak ada langkah terstruktur dan jangka panjang mengatasi soal ini. Yang ada hanyalah kebijakan pragmatis, dan berharap investor menyediakan tenaga kerja sendiri.

Padahal soal tenaga kerja, itu masalah strategis bagi industri hulu, dan tugas negara mengatasinya. Apalagi menyangkut geostrategis negara lain yang ingin menguasai pasar bateral lithium. Apa artinya SDA nikel besar kalau engga ada SDM?

Saran saya kepada pemerntah, sudah saatnya buat kebijakan fasilitas jaminan hidup kepada diaspora kita di luar negeri. Agar mereka mau pulang. Karena banyak warga Indonesia yang punya skill dan bekerja di smelter di Malaysia, Taiwan, Jepang dan Eropa.

Bujuk mereka pulang dan beri jaminan gaji lebih besar dari yang mereka terima sekarang. ya tirulah China ketika awal membangun industri skala besar. Yang mereka bujuk pertama kali adalah warga negaranya yang ada diluar negeri agar pulang membangun negeri.Bujuknya bukan pakai bahasa romantis, tetapi kasih uang. Kalau mereka punya utang ditempat kerjanya ya bailout.

Sumber: Facebook – Diskusi Dengan Babo

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Peter White

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.