Produk Cina: Seandainya Bisa, Saya Tak Mau Beli

Buatan Cina

Ini bukan karena saya benci produk Cina. Tapi karena saya ingin Indonesia yang berdikari.

Tahun 2007 saya mulai bekerja di Industri manufaktur, di sebuah perusahaan Jepang di Indonesia. Sebelumnya selama 12 tahun saya berkecimpung di dunia akademik. 10 tahun terakhir saya habiskan dengan bekerja sebagai peneliti di Universitas Do Jepang.

Dengan agak polos, waktu itu saya bilang, “Sebisa mungkin saya akan beli produk Indonesia”. Ketika perusahaan saya mulai produksi, mulailah saya mencari pengganti bahan yang kami impor dari Cina di pasar lokal. Waktu itu saya cari resistor, dioda, dan sejenisnya. Waktu saya tanya-tanya, saya ditertawakan orang. “Mana ada. Semua kita impor dari Cina”. Saya terperangah dengan kenyataan itu.

Makin lama saya bekerja di manufaktur makin sadar saya bahwa kita memang tidak punya kekuatan industri yang memadai. Kita tidak punya korporasi yang memiliki teknologi. Kita juga tidak punya industri dasar yang memadai. Industri kita hanya pelayan bagi industri global. Itu fakta…

Nah, orang nyinyir biasanya ngomong soal ini dengan menyalahkan pemerintah. Situasi ini dipakai untuk menyerang pemerintah. Saya tidak.

Apakah pemerintah tidak salah? Pemerintah salah. Banyak salahnya. Strateginya tidak jelas. Rencananya tidak jelas. Prioritas juga tidak jelas. Ditambah lagi, korup!

Usaha untuk membangun industri logam dasar dengan membangun Krakatau Steel dimulai dengan megakorupsi. Kalau Anda ikuti kasus perburuan harta Taher di zaman Orde Baru dulu Anda akan tahu ceritanya. Usaha membangun industri kimia dasar (olefin) dulu menghasilkan skandal Edy Tanzil.

Ada banyak lagi salah pemerintah, dari zaman Soeharto sampai sekarang.

Lalu bagaimana dengan korporasi? Perusahaan raksasa Indonesia banyak. Tapi nyaris tidak ada yang mau berivestasi di riset teknologi dan pengembangan produk. Maaf saja, mereka hanya mencari kekayaan. Setelah kaya, duitnya diparkir di Singapura. Mereka kendalikan bisnis dari sana.

Lalu apa lagi? Peneliti kita banyak yang lebih suka cari popularitas ketimbang bekerja serius untuk riset. Tentu saja ada orang-orang yang bekerja serius. Tapi jumlahnya masih jauh dari cukup. Kualitasnya, dalam hal kreativitas, integritas, dan motivasi, juga rendah.

Pekerja kita kebanyakan bermental budak. Sedikit yang mau bersusah payah mengasah kemampuan dan menambah skill. Skill rendah, disiplin minim, motivasi melempem, tapi gaji mau tinggi.

Intinya, ini kesalahan kolektif kita sebagai bangsa. Ini harus diperbaiki. Jadi sekali lagi bukan saya benci produk cina.

Apa yang saya lakukan? Saya bekerja untuk memperbaiki kemampuan para pekerja. Kontribusi saya tidak besar, tapi saya tahu di mana saya berdiri dan apa peran saya.

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Peter White

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2021. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.