Persepsi Anda

Persepsi Anda

Apakah itu mangga ? yang anda pahami bahwa mangga itu rasanya manis atau asam. Kulitnya kuning atau hijau. Kalau dibanting akan terdengar suara lembek. Cobalah rasakan? rasa manis atau masam karena lidah anda, bukan mangga. Warna kulit karena mata anda, bukan mangganya. Suaranya ketika dibanting karena telinga anda, bukan mangganya. Lantas apa sebetulnya mangga itu? Mangga itu adalah persepsi anda yang diterjemahkan oleh otak berkat memori yang tersimpan berdasarkan informasi dan pengalaman anda.

Mengapa kalau engga makan nasi belum terasa makan? Karena persepsi anda bahwa untuk bisa kenyang ya harus makan nasi. Mengapa kalau engga kaya engga bahagia?Karena persepsi anda bahwa untuk bahagia harus kaya. Mengapa kalau bukan cantik atau ganteng tidak menarik? Karena persepsi anda bahwa cantik dan ganteng membangkitkan libido anda. Mengapa harus jadi sarjana untuk bisa jadi orang pintar ?karena persepsi anda untuk jadi orang pintar harus sarjana. Mengapa harus pakai bermerek membuat gengsi anda baik ? Karena persepsi anda bahwa pakaian bermerk menaikan kelas anda.

Semua karena persepsi. Karena persepsi itu membuat anda terisolasi pemikiran dan informasi dari luar.

Baca juga:
Memahami Utang dan Investasi Secara Idiot

Benarkah persepsi itu absolut? Saya pernah melakukan pengalaman tirakat “mutih ” di sebuah pondok pesantren. Sebelum memasuki tirakat “mutih” sang kiyai menanamkan persepsi bahwa:

Pertama, kita menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan.

Kedua, kita bekerja sama dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa yang kita kehendaki.

Artinya Allah itu sangat dekat dengan kita. Bahkan kalangan ahli tasawuf mengajarkan manusia harus memikirkan diri sebagai manifestasi Tuhan. Sebagaimana paham wahdatul wujud, bahwa kehendak seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan. Semua hal yang ada di dunia ini akan kembali pada dirimu sendiri, di dalam pikiranmu. Kau milik dirimu sendiri. Kalau kau anggap semua benda tidak ada maka yang ada adalah dirimu sendiri. Itu persepsi ditanamkan pada diri saya.

Selama ritual itu saya lalui, hari pertama sampai seminggu, perasaan lapar dan haus terus mengganggu saya. Saya menderita dan lemah. Namun lewat seminggu, lewat pengalaman yang melelahkan, persepsi saya mulai terbangun. Bahwa tidak ada lapar, tidak ada haus tidak ada keinginan apapun.

Apa yang terjadi? Lewat seminggu kemudian , saya benar benar tidak merasakan lagi lapar dan haus. Saya tidak lagi memikirkan lezatnya makanan. Tidak lagi memikirkan air untuk diminum. Tidak lagi memikirkan hal di luar yang membuat saya senang. Saya hanya melihat ke dalam diri saya sendiri. Tanpa disadari saya bisa mengendalikan pikiran saya, dan tentu perasaan senang, bahagia, libido, orgasme, lapar, menderita pun dapat saya kendalikan. Semua karena pikiran, karena persepsi.

Jadi nak, dirimu terbentuk karena persepsimu atas dasar pengetahuan dan pengalamanmu. Bila pengetahuan dan pengalamanmu membentuk persepsi hidup ini menakutkan maka kau akan menderita. Bila persepsimu buruk tentang sesuatu maka hasilnya akan buruk menimpamu. Bila persepsi tentang hidup ini adalah perjalanan spiritual yang indah maka hidupmu akan penuh cinta , tentu kebahagian akan menyertaimu. Kemenangan akan menjadi bagianmu. Susah senang bagimu saja.

Karenanya, bertemanlah dengan orang yang soleh, yang membuatmu berpikir positip dan berbicaralah tentang hal yang baik agar orang lain mendapatkan persepsi yang baik. Karena bagaimanapun kamu bertanggung jawab atas dirimu dan lingkunganmu… Paham ya sayang…

Sumber: Facebook – Erizeli Jely Bandaro

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Peter White

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.