Perbedaan Antara Selulit dan Lemak

Perbedaan Selulit dan Lemak

Ketika orang pertama kali melihat selulit pada paha atau bokong mereka, sering kali mereka mengira bahwa itu adalah tumpukan lemak. Meskipun selulit mengandung lemak, itu terdiri atas lebih dari sekadar sel lemak. Tidak banyak orang yang tahu perbedaan Selulit dan Lemak.

Tepat di bawah permukaan kulit, ada lapisan lemak subkuitis yang menyelimuti sekujur tubuh. Ini merupakan salah satu tempat di mana tubuh menyimpan sel lemak yang dapat membakar ketika tidak ada cukup kalori dari makanan untuk menopang metabolisme, aktivitas fisik, serta menyokong kandungan dan laktasi. Inilah mengapa banyak wanita yang memiliki selulit setelah hamil.

Lapisan lemak subkuitis ini juga berfungsi sebagai insulator alami, menjaga kita agar tetap hangat di suhu yang dingin. Ia juga menyediakan bantalan alami untuk tubuh serta berfungsi sebagai organ endokrin, membantu menyeimbangkan hormon seiring dengan bertambahnya usia kita.

Fungsi lain dari lemak subkuitis adalah menyokong struktur kulit. Selulit membentuk ketika septum mengencang pada sel lemak atau ketika sel lemak mendorong septum. Ibaratnya seperti sofa yang menggembung di atas kerangka penyokongnya.

Bukan hanya orang yang mengalami berat badan saja yang memiliki selulit. Bahkan, bagi sebagian orang, selulit tidak tampak hingga mereka mengalami penurunan berat badan.

Sistem Getah Bening dan “Wastafel” Selulit

Sistem getah bening Anda sangat berperan dalam pembentukan selulit. Sistem getah bening adalah bagian dari sistem pembuluh darah, yaitu sistem yang memompa darah ke sekujur tubuh Anda. Sistem getah bening juga berfungsi untuk mengembalikan plasma darah—yang disebut getah bening—ke jantung sehingga bisa dikembalikan ke aliran darah.

Ketika sirkulasi darah dan sistem getah bening Anda terganggu, septum pada lemak subkuitis di bawah kulit Anda mulai menegang. Inilah yang membuat kulit tampak bergelombang, yang juga disebut selulit. Inilah perbedaan antara Selulit dan Lemak biasa.

Bayangkan bahwa lapisan subkuitis pada kulit itu ibarat wastafel dan sistem pembuluh darah dan getah bening adalah pipanya. “Wastafel” ini membutuhkan pipa untuk menyalurkan air bersih dan juga membuang air kotor. Ketika semuanya berjalan lancar, pembuluh kapiler pun mengantarkan darah yang kaya nutrisi kepada kulit dan getah bening membuang darah kotor dan racun.

Perbedaan Selulit

Ketika ada penyumbatan dan sirkulasi darah menurun, ini membuat jaringan sekitar menjadi kekurangan asupan dan melemahkannya, menyebabkan cairan terhambat. Penurunan pada pembuangan sel getah bening membuat cairan yang biasa terbuang menjadi terperangkap.

Karena aliran darah dan cairan getah bening yang stagnan, septum menjadi lebih berserat dan mengetat pada sel lemak karena sel kekurangan oksigen dan nutrisi sehingga menyatu dengan septum. Ini menyebabkannya menebal dan mengeras. Penurunan sirkulasi menyebabkan pembuluh darah melemah sehingga darah pun bocor ke jaringan sekitar. Ini akhirnya meningkatkan tekananan pada permukaan subkuitis dan semakin membatasi aliran.

Meningkatnya tekanan mengarah pada perubahan aliran darah sekitar wilayah yang terkena selulit. Serat septum terus menebal dan lemak terus terkumpul pada lapisan subkuitis. Namun, karena sirkulasi yang kurang baik, lemak dan racun pun tidak bisa terbuang dengan efektif.

Proses penumpukan ini menyebabkan getah bening yang stagnan menjadi sekumpulan toksin. Dalam kehidupan modern, kita terus dihadapkan pada berbagai jenis toksin. Mereka terdapat di dalam lingkungan, di dalam makanan yang diproses, serta pada bahan tambahan makanan. Toksin-toksin ini terakumulasi dalam tubuh kita seiring dengan berjalannya waktu. Hati, ginjal, kelenjar keringat, dan sistem getah bening terus bekerja untuk membuang toksin-toksin ini dari tubuh Anda, tapi sistem detoks alami pada tubuh ini tidak selalu bisa bekerja dengan sempurna sepanjang waktu.

Pada akhirnya, toksin-toksin berlebih akan terkumpul dan terperangkap di tempat-tempat lain, terutama di dalam dan di sekitar sel lemak, termasuk pada lapisan kulit subkuitis. Ini menyebabkan pengerasan awal pada yang tadinya septum elastis, membuat mereka turun ke sel lemak di bawahnya. Perbedaan Selulit dengan lemak biasa, layaknya sofa yang kelebihan busa, struktur pendukungnya akan mengembung dari bawah, dengan kata lain, selulit.

Merokok bisa meningkatkan jumlah toksin dalam tubuh secara drastis dan memungkinkan radikal bebas untuk merusak nadi dan dinding pembuluh darah sehingga mereka meradang dan bocor. Nikotin juga dikenal sebagai vasoconstrictor, yang artinya menghalangi pembuluh darah. Ini menekan “pipa” dan mempersulit aliran masuk untuk asupan serta aliran keluar untuk pembersihan dan detoksifikasi. Ketika pembuluh darah halus terganggu, begitu juga dengan jaringan-jaringan yang menerima darah kaya nutrisi dari pembuluh darah. Ini semua mempercepat proses penuaan alami pada kulit kita.

Jika Anda perokok, sebaiknya berhenti sekarang juga. Selain nikotin yang berkontribusi terhadap pembentukan selulit, tar dan zat tambahan lain yang terkandung di dalam rokok juga menyebabkan kerusakan serius dan permanen terhadap jantung dan paru-paru Anda. Saya tahu betapa sulitnya berhenti merokok—saya sendiri merokok selama 13 tahun—tapi bagian tersulit dari berhenti merokok hanyalah sementara dan hasil yang bisa Anda nikmati luar biasa. Jika Anda kesulitan berhenti, pertimbangkan untuk menggunakan permen karet nikotin, hipnosis, atau bahkan terapi akupunktur untuk membantu Anda.

Untuk menghilangkan selulit, Anda harus memberi asupan pada sel kulit untuk melancarkan penyumbatan sehingga aliran getah bening kembali normal. Ini bisa dilakukan dengan detoksifikasi jaringan tubuh.

Coba saya tanya satu hal: Mungkinkah Anda mengendarai mobil selama 30 tahun tanpa mengganti oli atau saringan udaranya? Tentu saja tidak! Demikian pula tubuh kita yang butuh menjalani pembersihan. Semakin sering kita melakukannya, tubuh kita pun akan terasa semakin enak. Saya menganjurkan para klien saya agar mereka melakukan detoks terhadap sistem tubuh mereka sekitar dua atau tiga kali dalam setahun, terutama jika mereka sudah bertambah tua. Detoks memberi waktu bagi getah bening, hati, dan ginjal untuk membersihkan tubuh.

Selain detoksifikasi rutin dan menyeluruh, langkah berikutnya dalam menyingkirkan selulit adalah menjaga agar aliran getah bening berjalan dengan baik. Pada ilmu pengobatan Timur, getah bening dianggap sebagai kunci kesehatan.

Ahli medis Barat juga mulai mengemukakan opini senada. Sistem getah bening jauh lebih penting daripada obat-obatan konvensional. Sistem getah bening membantu sirkulasi darah dan membuang toksin dari jaringan tubuh. Penting untuk memastikan bahwa sistem getah bening Anda bekerja secara efisien utnuk mencegah pembentukan selulit.

Tidak seperti sistem peredaran darah, sistem getah bening tidak memiliki pemompa sendiri, jadi itu merupakan tanggung jawab seluruh bagian tubuh untuk melancarkan aliran getah bening melalui pergerakan.

Ada tiga kunci untuk menstimulasi optimalnya fungsi sistem getah bening, yaitu:

  1. Olahraga
  2. Tarik napas dalam-dalam
  3. Pijat

Olahraga yang ditujukan untuk getah bening termasuk jenis apa pun yang meliputi gerakan naik-turun, seperti lompat di atas trampolin atau lompat tali. Cukup dengan lima menit dalam sehari, Anda bisa membantu menyingkirkan toksin yang terkumpul pada pembuluh getah bening Anda.

Olahraga rutin juga bisa membakar lemak berlebih. Seperti yang telah kita lihat, perkembangan selulit tidak berhubungan secara langsung dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Lemak pada selulit ditemukan pada lapisan kulit dan bukan lemak yang dibakar oleh tubuh sebagai energi. Lemak tersebut berasal jauh dari bawah permukaan kulit, lebih dekat ke tulang. Tapi turunnya berat badan bisa mengurangi lemak pada lapisan yang lebih dalam, yang mendorong naik septum dan sel lemak pada lapisan kulit subkuitis. Ini mengurangi tekanan pada struktur penopang septum, menyingkirkan penampakan selulit secara keseluruhan.

Lihat Daftar Isi Defeat Selulit
Artikel sebelumnya: Penyebab Selulit Pada Tubuh Anda
Artikel selanjutnya: Kenapa Selulit Pada Wanita Lebih Banyak?

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Adela Haque

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.