Peluang Bisnis Ada Di Mana Saja

Peluang Bisnis

Dulu tahun 1987, antena parabola dibatasi. Hanya kalangan tertentu yang bisa punya antena parabola dan punya akses nonton TV acara belahan dunia lain. Tetapi orang kebanyakan walau punya uang belum tentu bisa punya antena parabola. Saya dengar orang marah dengan Soeharto soal pembatasan itu. Tetapi marahnya hanya bisik bisik, bagi saya ini peluang bisnis.

Saya berpikir sederhana. Kalau saya punya tekhnologi yang bisa membatasi penerimaan frekwensi parabola, tentu ide yang bagus untuk bisnis. Orang bebas punya parabola tetapi hanya bisa nonton TV lokal. Saya datang ke BPPT, tanya soal itu. Mereka tidak jawab, namun mereka memberi saya akses ke perpustaan teknologi antena receiver.

Dari data pustaka, saya tahu bahwa pada parabola itu ada alat Fit On. Itulah yang menentukan kekuatan jangkauan menerima frekwensi. Saya mengirim telex ke relasi saya di Taiwan dan Korea menanyakan produk Fit On. Mereka menjawab dengan cepat. Ukuran Fit on menentukan jangkaun frekwensi. Harganya hanya USD 10. Ternyata harganya murah. Saya membuat surat ke menteri Penerangan dengan dilengkapi proposal. Tetapi sudah sebulan engga dapat jawaban. Dari istri ( selir ) direktur Pertamina saya diatur ketemu dengan Menteri Penerangan di Hotel Indonesia. Sebulan kemudian perusahaan saya dapat izin impor Fit On dengan monopoli.

Setelah itu, setiap hari pedagang glodok datang ke saya untuk dapatkan fiton. Mereka setor uang USD 50 setiap unit Fit on yang mereka impor. Itu saya sebut jasa import. Biaya buka LC dan pengapalan ditanggung oleh pedagang glodok. Modal saya hanya stempel dan tanda tangan untuk aplikasi impor. Dari USD 50 komisi per unit itu, saya sumbangkan ke yayasan yang ditunjuk menteri sebesar USD 10. HItung aja berapa komisi saya dapat setiap bulan. Karena sejak itu, siapapun boleh beli antena parabola.

Baca juga:
Krisis Ekonomi, Indonesia Akan Baik-Baik Saja

Tahun 2005, saya tahu China praktis monopoli material untuk bahan membuat mircrochip. Waktu itu belum banyak relokasi industri elektronika ke China. Bagi saya ini peluang bisnis, saya lalu mendirikan perusahaan supply chain, dengan membujuk perusahaan electronik di Jepang, Korea, Taiwan, AS untuk bermitra dengan saya. Kekuatan saya adalah izin dari pemerintah China dan dukungan supply material logam tanah jarang. Untuk itu tentu saya gandeng mitra lokal. Karena itu saya bisa mendirikan pabrik microchip bersama mitra dari AS, Korea, dan Jepang.

Tahun 2006, saya tahu paling sulit bagi pengusaha perikanan adalah ekpor ikan. Karena ketatnya aturan FDA yang mengharuskan setiap eksportir ikan punya sertifikasi kesehatan dari FDA. Dan saya tahu bahwa di ASIA Tenggara hanya Thailand yang bisa dapatkan sertifikasi itu. Sekali lagi, ini peluang bisnis, ya saya dirikan pabrik pengolahan ikan di Thailand dan ikannya dari Indonesia. Kemudian dari Thailand di ekspor ke Eropa, AS dan Jepang. Nilai tambah berlipat.

Mengapa saya ceritakan ini. Peluang bisnis itu ada disekitar anda. itu ladang rezeki bagi anda. Masalahnya apakah anda bisa melihat peluang itu? Bagaimana bisa tahu peluang itu? Banyaklah melihat, membaca dan mendengar. Kuncinya, berpikirlah terbuka. Kalau ide datang, jangan hanya dibayangkan. Cepat tulis semua yang kamu pikirkan. Setelah itu cari informasi selengkapnya tentang peluang itu. Kemudian lakukan proses bisnis. Jangan menyerah! Jadilah pemenang yang cerdas. Bukan follower. Pahamkan sayang.

Sumber: Facebook – Diskusi Dengan Babo

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Peter White

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.