Mafia Pangan Di Era Jokowi

Mafia Pangan

Tampaknya ada banyak hal yang tidak bisa diungkap ke publik tentang sepak terjang kabinet Jokowi dalam mengemban amanat untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat Indonesia. Salah satunya, pertarungan melawan mafia pangan. Saat ini mereka benar-benar tak berkutik, setelah puluhan tahun menikmati keberlimpahan dengan memainkan stok dan harga kebutuhan pokok masyarakat.

Suatu hari, saya bertemu seorang teman lama. Dia ternyata bekerja disebuah perusahaan yang kerjaannya borong sembako dan bahap pokok lainnya saat panen raya (mafia pangan), lalu menumpuknya di gudang perusahaan. Kemudian menjualnya kembali dengan harga jauh lebih tinggi saat pasar mulai kosong. Ia lalu menunjukan foto-foto gudang penimbunannya pada saya. Oh my good! Gueede banget! Seperti hanggar pesawat, berjejer ada beberapa gudang. Itu baru di satu lokasi, belum lokasi lainnya. Saya sungguh sangat marah saat itu!

Bagaimana tidak marah, saat itu menjelang bulan puasa, beberapa stok bahan pangan mulai kosong, harga-harga merangkak naik. Sementara banyak sekali masyarakat yang membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka menjelang bulan puasa dan lebaran. Pengen sekali rasanya nonjok itu orang! Sementara dia sebagai manajer, punya mobil mewah, gaji gede, bonus berlimpah, yang notabene di peroleh dari hasil memeras harga kebutuhan pokok masyarakat.

Saya tahu perusahaan itu, milik seorang konglomerat, titisan “raja” yang pernah berkuasa di Indonesia selama 32 tahun. Duitnya banyak, nggak berseri, bukan hal sulit bagi dia melakukan ini, borong sana sini, jadi mafia pangan. Dan ini sudah berlangsung bertahun-tahun! Kita semua pasti paham, di jaman SBY hampir tiap tahun selalu ada bahan pangan kebutuhan masyarakat yang bergejolak, naik sangat tinggi dan barangnya tidak ada di pasar. Yang paling sering saat itu kedelai dan cabai.

Apa Yang Dilakukan Jokowi Untuk Melawan Mafia Pangan?

Di awal masa pemerintahaannya, Jokowi sangat konsen dengan mafia pangan ini, beliau memperkuat Bulog. Dan kemudian membuka keran untuk impor berbagai bahan pangan. Ketika masa panen atau menjelang hari besar, dan mafia pangan melakukan pembelian besar-besaran untuk bahan pangan tertentu. Yang dilakukan oleh Jokowi adalah men-impor bahan pangan tersebut lalu mengisinya ke pasar. Jika di pasar bahan pangan tersebut diborong lagi, maka Jokowi segera meng-impornya kembali. Terus seperti itu, sampai mafia pangan itu kewalahan, barang numpuk di gudang, harga tidak naik signifikan.

Pengusaha sekaya apapun di Indonesia tidak akan mungkin bisa melawan uang negara. Walaupun akibat strategi ini, Jokowi seringkali dikritik pedas karena meng-impor bahan pangan sementara kondisi sedang panen. Dianggap menjatuhkan harga petani dan sebagainya. Tapi, kalau kita mau jujur, selama pemerintahan Jokowi dari periode pertama hingga sekarang. Tidak pernah kita mengalami gejolak bahan pangan dan kosong di pasaran. Kalaupun ada kenaikan, tidak signifikan, masih wajar, naik karena hukum permintaan yang tinggi. Tapi barangnya tetap ada di pasaran.

Baca Juga:
Suatu Waktu Indonesia Akan Dikuasi Taliban

Di era Jokowi saya sempat bertemu lagi dengan teman saya itu. Sekarang kerjaannya ngeluh dan maki-maki Jokowi. Saya cuma tersenyum saja, dalam hati saya berkata: “Kalau seorang pemimpin mau bekerja sedikit saja, maka banyak hal yang bisa dirasakan oleh rakyat ini. Walaupun mungkin banyak yang tidak tahu, tapi kalau mau jujur, seluruh rakyat Indonesia merasakan perbedaannya dibandingkan periode-periode sebelumnya, ini baru soal pangan.”

Dan kemudian saya perhatikan, perusahaan teman saya ini, kemudian membuka gerai-gerai kecil di ruko, terutama diperkotaan besar. Hmm… mungkin butuh jaringan untuk menyalurkan stok yang ada di gudang, sekaligus supaya bisnisnya dan perusahaannya tetep jalan. Dulu mana ada gerai-gerai kecil seperti itu, nggak butuh yang seperti itu, tapi sekarang…..

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Dicky Herlando

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.