Kenapa Selulit Pada Wanita Lebih Banyak?

Selulit Pada Wanita

Baik pria maupun wanita bisa memiliki selulit, tapi selulit pada wanita lebih dominan karena level struktural dan anatomi kulit wanita jauh berbeda dibandingkan pria. Dari segi zat kimiawi pada tubuh, terkait dengan estrogen, yaitu hormon wanita. Pria jarang sekali memiliki selulit kecuali mereka memiliki hormon estrogen yang dominan, termasuk kelainan genetis tertentu, lemahnya hormon testosteron, atau ketika mereka menerima terapi hormon estrogen pada pengobatan kanker prostat.

Ketika tubuh wanita mengeluarkan estrogen untuk memicu ovarium agar mengeluarkan telur, ini menyebabkan cairan menggumpal dalam sel lemak. Estrogen juga membuat lemak berlebih tersimpan pada pinggang, paha, serta bokong sehingga kita punya cukup energi yang tersimpan untuk masa kehamilan dan menyusui, sekaligus menyediakan semacam bantalan estrogen yang terbentuk dari tahun ke tahun.

Kehamilan juga memicu selulit pada wanita. Begitu tubuh mempersiapkan diri untuk melahirkan, ia mengeluarkan hormon relaksin, yang menguraikan jaringan sel pada serviks, melenturkan serviks dan melebarkan tulang pubis untuk mengakomodasi jalur datangnya bayi ke dunia ini. Namun, hormon tidak pernah hanya berfungsi untuk satu momen. Relaksin juga memperlambat produksi kolagen, yaitu protein yang berfungsi untuk menjaga agar kulit kita tetap kuat dan lentur. Ketika kulit kehilangan kelenturannya, terdorongnya sel lemak pada septum pun semakin jelas terlihat.

Selulit Pada Wanita Dibandingkan Pria

Fluktuasi hormon yang terjadi selama masa kehamilan dan pramenopause sering kali mengarah pada timbulnya selulit. Estrogen dikenal berfungsi untuk menjaga agar kulit tetap kencang dan lentur karena ia meningkatkan pembentukan kolagen. Tapi ketika hormon tidak seimbang, produksi kolagen pun menurun. Ini memengaruhi elastisitas kulit sekaligus menyebabkan dinding pembuluh getah bening dan pembuluh darah—yang menyingkirkan toksin dari lapisan subkuitis di mana selulit terbentuk—menjadi kurang kuat. Dengan aliran darah dan getah bening yang terganggu, septum pun mulai kaku.

Hormon lainnya, yang disebut progesteron, juga memainkan peranan penting dalam pembentukan selulit. Progesteron dapat berubah menjadi hormon lain secara alamiah, termasuk estrogen, yang dapat tubuh gunakan kala diperlukan. Studi terbaru menunjukkan bahwa 2% krim progesteron yang digunakan pada kulit pra—dan pasca—menopause dapat efektif meningkatkan kelenturan dan kekencangan kulit, tapi pada peneliti tersebut tidak dapat menjelaskan mengapa ini bisa terjadi.

Namun demikian, hormon lain—yang disebut human growth hormone (hGH)—juga memengaruhi kelenturan kulit. Beberapa perempuan menggunakan suntikan hGh yang mahal untuk memulihkan dan meremajakan kulit. Penggunaan hGH mendapat banyak sorotan setelah sebuah studi dipublikasikan. Pada studi tersebut, sekelompok pria berusia di atas 60 tahun diberikan sejumlah hGH, sedangkan sekelompok lainnya diberikan plasebo. Mereka yang diberikan hGH cenderung mengurus, dengan berkurangnya sel lemak dan menebalnya kulit sebanyak 7,1%.

Anda mungkin bisa melihat hGH dijual di internet sebagai formulasi oral. Ini bukan merupakan cara yang efektif untuk menggunakan hGH karena hormon ini merupakan peptida yang bisa terurai oleh asam lambung. Agar bisa bekerja, hGH harus disuntikkan.

Meskipun hGH punya manfaat sebagai kosmetik, ia juga memiliki efek samping yang berbahaya. Ia bisa meningkatkan gula darah Anda yang pada akhirnya mengarah pada penolakan insulin. Ia juga bisa meningkatkan tekanan darah Anda sehingga memungkinkan sel kanker untuk tumbuh lebih cepat pada tubuh Anda. Terlebih lagi, hGH juga sangat mahal. Perawatannya bisa mencapai sekitar 100 juta rupiah.

Namun, jika digunakan dengan bijak untuk kondisi tertentu dan di bawah pengawasan medis yang ketat, hGH bisa menjadi pilihan perawatan yang membantu. Selain untuk terapi, ia juga bisa menyembuhkan pasien yang lemah atau lansia. Namun, sebagai cara untuk menyingkirkan selulit, metode perawatan mahal ini mungkin lebih banyak risikonya dibandingkan manfaatnya.

Lihat Daftar Isi Defeat Selulit
Artikel sebelumnya: Perbedaan Antara Selulit dan Lemak
Artikel selanjutnya: Selulit dan Genetis

Bagikan Artikel Ini:

About the author

Adela Haque

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Copyright © 2020. IndonesiaLebihBaik.com Allright Reserved.